PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan manusia
merupakan perubahan yang progresif dan berlangsung terus menerus atau
berkelanjutan. Keberhasilan dalam mencapai suatu tahap perkembangan akan sangat
menentukan keberhasilan dalam tahap perkembangan berikutnya. Sedangkan, apabila
ditemukan adanya satu proses perkembangan yang terhambat, terganggu, atau
bahkan terpenggal, dan kemudian dibiarkan maka untuk selanjutnya sulit mencapai
perkembangan yang optimal.
Tidak setiap anak
mengalami perkembangan normal. Banyak di antara mereka yang dalam
perkembangannya mengalami hambatan, gangguan, kelambatan, atau memiliki
factor-faktor resiko sehingga untuk mencapai perkembangan optimal diperlukan
penanganan atau intervensi khusus. Kelompok inilah yang kemudian dikenal
sebagai anak berkebutuhan khusus.
Uraian
di atas, mengisyaratkan bahwa secara konseptual anak berkebutuhan khusus (children
with special needs) memiliki makna dan spektrum yang lebih luas
dibandingkan dengan konsep anak luar biasa, cacat, atau berkelainan (exceptional
children). Anak berkebutuhan khusus tidak hanya mencakup anak yang memiliki
kebutuhan khusus yang bersifat permanen akibat dari kecacatan tertentu (anak
penyandang cacat), tetapi juga anak berkebutuhan khusus yang bersifat temporer.
Anak berkebutuhan khusus temporer juga biasa disebut dengan anak dengan factor
resiko, yaitu individu-individu yang memiliki atau dapat memiliki problem dalam
perkembangannya yang dapat berpengaruh terhadap kemampuan belajar selanjutnya,
atau memiliki kerawanan atau kerentanan atau resiko tinggi terhadap munculnya
hambatan atau gangguan dalam belajar atau perkembangan selanjutnya. Bahkan,
dipercayai bahwa anak berkebutuhan khusus yang bersifat temporer apabila tidak
mendapatkan intervensi secara tepat sesuai kebutuhan khususnya, dapat berkembang
menjadi permanen.
B. Rumusan Masalah
1. apa yang
dimaksud dengan anak berkebutuhan khusus (ABK)?
2. bagaimana
model layanan untuk anak berkebutuhan khusus (ABK)?
3.
tenaga kependidikan seperti apakah yang
sesuai untuk layanan anak berkebutuhan khusus (ABK)?
C. Tujuan
1. untuk
mengetahui definisi anak berkebutuhan khusus.
2. mengetahui
model layanan untuk anak berkebutuhan khusus(ABK).
3.
mengetahui tenaga kependidikan yang
sesuai untuk layanan anak berkebutuhan khusus (ABK).
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Anak
Berkebutuhan Khusus(ABK)
Anak dengan kebutuhan khusus (special needs
children) dapat diartikan secara simpel sebagai anak yang lambat (slow)
atau mengalami
gangguan (retarded) yang tidak akan pernah berhasil di sekolah
sebagaimana anak-anak pada umumnya.
Menurut
Heward anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang
berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan
mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra,
tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan
prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. istilah lain bagi anak
berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat. Karena karakteristik
dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus
yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra
mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu
berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Anak berkebutuan khusus biasanya
bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) sesuai dengan kekhususannya
masing-masing. SLB bagian A untuk tunanetra, SLB bagian B untuk tunarungu, SLB
bagian C untuk tunagrahita, SLB bagian D untuk tunadaksa, SLB bagian E untuk
tunalaras dan SLB bagian G untuk cacat ganda.
Anak
berkebutuhan khusus (ABK) agak berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Anak
berkebutuhan khusus berproses dan tumbuh, tidak dengan modal fisik yang wajar,
karenanya sangat wajar jika mereka terkadang cenderung memiliki sikap defensif
(menghindar), rendah diri, atau mungkin agresif, dan memiliki semangat belajar
yang lemah.
Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah definisi yang sangat luas,
mencakup anak-anak yang memiliki cacat fisik, atau kemampuan IQ rendah, serta
anak dengan permasalahan sangat kompleks, sehingga fungsi-fungsi kognitifnya
mengalami gangguan.
2.2 Model
Layanan Anak Berkebutuhan Khusus
ABK memiliki tingkat kekhususan yang amat
beragam, baik dari segi jenis, sifat, kondisi maupun kebutuhanya, oleh karena
itu, layanan pendidikanya tidak dapat dibuat tunggal atau seragam melainkan
menyesuaikan diri dengan tingkat keberagaman karakteristik dan kebutuhan anak. Dengan beragamnya model layanan
pendidikan tersebut, dapat lebih memudahkan anak-anak ABK dan orang tuanya
untuk memilih layanan pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dan
kebutuhanya.
Model layanan pendidikan bagi ABK
diantaranya;
v Model Segregasi
Merupakan model layanan pendidian yang sudah
lama dikenal dan diterapkan pada anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia.
Model ini mencoba memberikan layanan pendidikan secara khusus dan terpisah Yaitu penyelenggaraan
pendidikan yang dilaksanakan secara khusus danterpisah dari sistem pendidikan
anak normal.Sistem pendidikan segregasi diselenggarakan karena:1.Adanya
kekhawatiran terhadap kemampuan anak berkebutuhan khususuntuk belajar bersama
dengan anak normal.2.Adanya kelainan fungsi pada anak berkebutuhan khusus
memerlukanlayanan pendidikan dengan menggunakan metode yang sesuai
dengankebutuhan khusus mereka.Ada empat penyelenggaraan pendidikan dengan
sistem segregasi, yaitu :1.Sekolah Luar Biasa (SLB)Bentuk SLB merupakan bentuk
unit pendidikan, artinya, penyelenggaraan sekolah mulai dari tingkat
persiapan sampai dengantingkat lanjutan diselenggarakan dalam satu unit sekolah
dengan satukepala sekolah.Pada
awalnya penyelenggaraan sekolah dalam bentuk unit ini berkembang sesuai
dengan kelainan yang ada (satu kelainan saja),sehingga ada SLB untuk
tunanetra(SLB-A), SLB untuk tunarungu(SLB-B), SLB untuk tunagrahita (SLB-C),
SLB untuk tunadaksa(SLB-D), SLB untuk tunalaras,sekolah autism, sekolah anak
ber IQ sedang, sekolah anak berbakat, dsb. (SLB-E). Di setiap SLB tersebut
adatingkat persiapan, tingkat dasar, dan tingkat lanjut.Selain itu ada pula
SLB-ABCD yaitu SLB untuk anak tunanetra,tunarungu, tunagrahita, tunadaksa.
Kebaikan/kelebihan
§ Anak merasa senasib dan sepenanggungan sehingga dapat menghilangkan
rasa minder, rendah diri dan dapat menimbulkan rasa kebangkitan diri dalam
menyongsong kehidupan di masa yang akan datang.
§ Anak akan lebih mudah menyesuaian diri dengan teman-temanya yang
sama-sama mengalami/menyandang ketunaan.
§ Anak akan termotivasi dan barsaing secara sehat dengan sesama
temanya yang senasib serta anak akan
lebih mudah bersosialisasi dengantemanya tanpa adanya rasa takut bergaul dan
rasa kurang percaya diri.
Kekurangan / kelebihan
§ Anak akan sulit bergaul dan menjalin komunikasi dengan anak yang
normal karena mereka terpisah dari lingkungan anak-anak normal lainya.
§ Perkembangan sosialisasi anak akan terhambat secara luas di
masyarakat dikarnakan pergaulannya yang terrbatas hanya dengan anak anak cacat
saja.
§ Anak akan merasakan adanya ketidak adilan dalam kehidupan mereka di
sekolah yang hanya terbatas bagi mereka yang tergolong berkelainan
.
v Model Kelas Khusus
Sesuai dengan namanya, keberadaan kelas khusus
tidak berdiri sendiri seperti halnya sekolah khusus (SLB)melainkan
keberadaannya die sekolah umum/regular. Keberadaan kelas khusus tidak bersifat
permanen, melainkan didasarkan pada ada/tidaknya anak-anak memerlukan
pendidikan/pembelajaran khusus di sekolah tersebut. Tujuan dari pembentukan
kelas khusus adalah untuk mebantu anak-anak agar tida terjadi tinggal
kelas/drop out atau untuk menemukan gejala keluarbiasaan secaradini pada
anak-anak SD. Dalam praktiknya kelas khusus bersifat fleksibel,ada kelas khusus
sepanjang hari, dan kelas khusus untuk bidang stadi tertentu. Dalam kelas
khusus sepanjang hari anak ABK dididik oeh guru khusus diruangan/kelas yang
khusus pula. Pada jam-jam istirahat, anak-anak ini dapat dapat berinteraksi
dengan mereka yang bukan ABK, sedangkan pada jam-jam pelajaran mereka hanya
berinteraksi dengan sesamamereka yang berkategori ABK. Kelas khusus ini hamper
mirip dengan sekolah segregas, hanya saja lokasinya yang berbeda dalam satu
naungan sekolah induk/regular. Dalam kelas khusus dalam bidang stadi tertentu
anak-anak (ABK)belajar bidang stadi yang tidak dapat mereka ikutidi kelas
regular. Adapun dalam bidang stadi tertentu seperti olahraga, kerajinan tangan,
music, dan lain-lain dapat dilakukan secara bersama-sama dengan anak-anak yang
bukan ABK. Di kelas khusus ini biasanya anak-anak mendapat mata pelajaran yank
bersipat akademik seperti membaca, menulis dan berhitung atau aspek-aspek lain yang sesuai dengan
kekhususannya.
Kebaikan/kelebihan.
§ Pengelompokan relative homogen
karena agar anak akan lebh mendapatkan perlakuan dan pelayanan pendidikan yang
sesuai dengan kebutuhan anak tersebut.
§ Dengan cara pembelajaran menggunakan
pendekatan individual atau kelompok kecil potensi anak akan lebih cepat berkembang.
§ Dari segi sosial, keberadaan anak di
dalam lingkungan yang normal anak akan lebih mudah untuk mengembangkan diri.
Kekurangan/Kelemahan
§ Penghambat belajar anak-anak ABK,
yaitu anak-anak ABK kadang-kadang masih
mendapat stigma dari teman-temannya.
§ Anak-anak ABK dalam bersosialisasi
kadang masih canggung/enggan untuk bergaul dengan teman/mereka yang bukan
kategori dari anak-anak ABK.
§ Sebagian orang tua tidak mau/terima
apabila anak-anak mereka die cap sebagai ABK, apalagi kalau dikelompokan/dikhususkan
dengan sesame ABK yang dalam kelas tertentu.
v Model Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB)
SDLB keberadaannya hampir mirip dengan SLB akan
teapiSDLB sesuai dengan intruksi presiden (inpres) No. 4/1982 adalah sekolah
yang di peruntukan dan untuk menampung anak-anak berkebutuhan khusus usia
sekolah dasar dari berbagai jenis dan tingkat kehususannya. Sesuai dengan
inpres SD No. 7/1983, SDLB pada hakikatnya adalah SD Negeri impres,biasa tetapi
khusus diperuntukan bagi anak-anak usia wajib belajar yang memerlukan
pendidikan khusus. Dilihat dari keragaman anaanak yang sekolah di SDLB dengan
berbagai jenis kekhususannya tersebut, maka SDLB sebenarnya termasuk sekolah
terpadu, akan tetapi terpadu secara fisik bukan terpadu secara akademik. (Dwidjo
sumarto, 1988)
Kebaikan/Kelebihan
§
Anak akan merasa bahwa mereka berada dalam dunia yang lebih luas,
bukan terbatas pada kelamin tertentu saja.
§
Anak akan lebih leluasa mengadakan interaksi dan komunikasi bersama
temannya yang berpariasi dari jenis ketunaannya. Itu dilihat dari segi
perkembangan sosialnya.
§
Anak akan dapat lebih mudah meningkatkan rasa percaaya diri,
menebalkan semanga, dan motivasi berprestasi yang tinggi karna mereka sama-sama
senasib dan sepenanggungan, dilihat dari segi psikologis.
Kekurangan/Kelemahan
§
Anak masih merasa bahwa mereka hidup dalam lingkaran/dunia terpisah
dari anak-anak yang normalpadahal mereka sebenarnya hidup dalam lingkungan yang
normal yang akibatnya anak merasa di sisihkan dari dunia yang normal.
§
Anak masih merasakan terbatasnya dalam menembangkan interaksi dan
komunikasi dengan mereka yang kategori normal, karena anak-anak dikelompokan
berdasarkan jenis ketunaan tertentu, sehingga kadang-kadang timbul sikap
permusuhan di antara kelompok mereka.
v Model Guru Kunjung
Model guru kunjung dapat diterapkan untuk
melayani pendidikan bagi ABK terutama mereka yang ada atau bermukim di daerah
terpencil, daerah perairan, daerah kepulauan,atau tempat-tempat yang slit
terjangkau oleh layanan pendidikan khusus yang telah ada,misalnya SLB, SDLB,
kelas khusus, dan sebagainya. Di tempat-tempat tersebut di bentuk
sanggar/kelompok-kelompok belajar temat anak-anak memperoleh layanan
pendidikan. Guru kunjung dengan waktu yang telah di tentukan secara periodik
mengunjungi tempat-tempat kelompok belejar yang menjadi binaannya. Program
pendidikan yang ditawarkan meliputi pembelajaran dengan materi yang bersipat
praktis dan prgmatis, seperti keterampilan kehidupan sehari-hari, membaca,
menulis, dan berhitung sederhana. Guru kunjung tersebut biasanya diambilkan
dari guru khusus yang mengajar di sekolah induknya atas penunjukan dari dinas
pendidikan setempat.
Kebaikan/Kelebihan
§
Anak akan lebih mudah mendapat layanan pendidikan dengan tidak
perlu datang ke suatu tempat yang jauh dari tempat tinggaln ya karna sudah ada petugas/guru
khusus yang mendatanginya.
§
Anak-anak bisa saling berkomunikasi dengan sesame mereka yang
berkategori ABK dari daerah/tempat yang lain yang saling berjauhan sehingga
dapat memicu semangat dalam belajar.
§
Anak-anak dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan
praktis dan pragmatis yang mereka butuhkan sehari-hari.
Kelemahan/Kekurangan
§
Layanan pendidikan berupa system guru kunjung dalam banyak hal
masih sulit diterapkan/dilakukan karena memerlukan jaringan kerjasama antar
berbagai pihak yang tidak begitu mudah.
§
Anak-anak ABK di daerah terpencil, pedalaman,maupun di
tempat-tempat terasing lain keberadaanya tersebar dan terpencar-pencar sehingga
menyulitkan dalam mengadakan koordinasi untuk pelaksanan pembelajaran.
§
Para orangtua anak ABK di daerah terpencil pada umumnya masih
rendah kesadaranya untuk menyekolahkan/mengirimkan anaknya untuk belajar di
sanggar-sanggar belajar.
§
Masalah transportasi merupakan persoalan klasik yang menjadi
kendala sebagian orangtua untuk mengirimkan anaknya belajar disanggar-sanggar
belajar.
v Sekolah Terpadu
Sekolah terpadu pada hakiatnya merupakan
sekolah normal biasa yang telah ditetapkan untuk menerima anak-anak
berkebutuhan khusus. Mereka belajar bersama-sama dengan anak-anak normal lainya
tanpa di pisah oleh dinding tembok kelas. Dalam pembelajaran di sekolah mereka
di ajar oleh guru-guru umum sedangkan materi-materi yang mempunyai sifat
kekhususan diberikan oleh guru-guru pendamping yang telah ditunju. Dalam
pelaksananya pendidikan terpadu dapat berlangsung secara (1) terpadu
penuh/sepanjang hari pelajaran dan dapat pula (2) secara terpadu
sebagian/khusus bidang stadi tertentu. Pada tipe sekolah terpadu penuh,
anak-anak abeka belajar sama-sama dengan mereka yang bukan ABK dengan mengikuti
semua pelajaran tanpa terkecuali. Meskiun demikian tipe sekolah ini tetap
membutuhkan guru pendamping khusus di kelas/sekolah tersebut. Jika guru umum
menghadapi kesulitan berkaitan dengan anak ABK maka ia dapat meminta bantuan pada
guru khusus tersebut. Disekolah terpadu sebagian anak-anak ABK mengikuti mata
pelajaran bersama-sama anak-anak bukan ABK yang bersipat akademik, misalnya
Matematika, IPA, IPS, dan lain-lain. Sedangkan untuk mata pelajaran yang tidak
bisa di ikuti oleh ABK bersama anak-anak normal maka anak ABK dilayani
tersendiri sesuai karakteristik kekhususannya, seperti mata pelajaran/kegiatan
olahraga, kerajinan tangan, latihan
orientasi, dan mobilitas, dan lain-lain. Pendidikan/sekolah terpadu pada
awalnya hanya menerima murid ABK kategori tunanetra, namun untuk yang sekarang
dan yang akan datang pendidikan terpadu
diharapkan bisa menerima murid dari semua jenis ABK dengan system yang lebih
baiik lagi.
Kebaikan/Kelebihan
§
Anak merasa di hargai hakekat dan martabat sebagai manusia pada
umumnya sehingga mereka bisa belajar bersama-sama dengan anak normal tanpa
dibatasi oleh dinding tembok pemisah yang tegas.
§
Dari segie perkembangan sosial anak mudah berinteraksi dan
berkomunikasi secara luas dengan mereka /anak-anak yang normal di sekolah
tersebut.
§
Dari segi psikologis,anak merasa percaya diri dan dapat menimbulkan
semangat/motvasi untuk bersaing secara sehat dengan mereka yang berkategori
normal.
Kekurangan/Kelemahan
§
Ana kadang merasa rendah diri di depan mereka yang normal sehingga
akibatnya dapat meruntuhkan emangat dalam belajar di kelas/seolah.
§
Dalam kondisi tertentu, anak kadang menjadi bahan olok-olokan yang
negative dar temanya yang normal sehingga kondisi kejiwaan anak ABK menjadi
tertekan dan selanjutnya dapat meruntuhkan motivasi belajarnya yang sebelumnya
telah terbangun dengan baik.
§
Kadang ketersediaan guru GPK (Guru Pendamping Khusus) bagi anak ABK
di seolah tersebut tidak terlalau tersedia.
v Pendidikan Inklusi (Inklusive
Education)
Kata inklusi bermakna terbuka lawan dari
eksklusi yang bermakna tertutp. Pendidikan inklusi berarti pendidikan yang
bersipat terbuka bagi siapa saja yangmau masuk sekolah baik dari kalangan yang
berkebutuhan khusus maupun yang normal. Demikian pula lingkungan pendidikan,
termasuk ruangan kelas, toilet, halaman bermain, laboratorium, dan lain-lain
harus dimodifikasi dan dapat di akses oleh semua anak, termasuk anak-anak
berkebutuhan khusus. Pelaksanaan pendidikan inklusi dilator belaangi oleh
filsafat mainstriming yang menyatakan bahwa dunia yang normal harus berisi
manusia yang normal dan yang tidak
normal.demikian pula komunitas sekolah yang normal harus ada kebersamaan antara
anak yang normal dan yang tidak normal, baik pada saat menerima pelajaran dalam
kelas maupun pada saat bersosialisasi di luar kelas. Penyelenggaraan pendidikan
inklusi tentu sajah memerlukan perencanaan yang matang, sehingga dalam
pelaksanannya tidak menimbulan evek yang kurang menguntungkan. Pendidikan
inklusi lazimnya sudah di terapkan di Negara-negara maju, seperti Norwegia,
Swedia, Denmark, USA,dan sebagian Australia. Di Indonesia model pendidikan
inklusi sudah mulai banyak dirintis di beberapa sekolah tertentu, namun belum
dapat sepenuhnya di laksanakan. Tetapi dalam prakteknya tidak lebih dari
sekedar sekolah terpadu biasa.
Kebaikan/Kelebihan
§
Anak akan memperoleh keadilan layanan pendidikan yang tidak
dibedakan dari anak-anak normal lainya sehingga secara tidak langsung dapat membangkitkan
motivasi dan gairah belajar di sekolah. Anak dapat mengambil bagian untuk
berartisipasi dalam kehidupan norma di sekolah atau di masyarakat tanpa
memandang kekurangan/ketunaan yang di sandangnya.
§
Anak merasakan adanya perlakuan dan persamaan hak, harkat dan
martabatdalam memperoleh layanan pendidikan tanpa membedakan antara yang cacat
dan yang normal.
§
Anak dapat bergaul dan berinteraksi secara sehat dengan
teman-temanya yang bukan kategori ABK,
sehingga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi berprestasi dalam
belajar disekolah.
Kekurangan/Kelemahan
§
Dalam berinteraksi sosial, dalam kondisi tertentu kadang anak masih
mendapatkan cemoohan atau ejekan yang negatif dari sebagian temanya yang normal
yan dapat berakibat menurunnya anak dalam semangat belajar dan komunikasi di
sekolah.
§
Untuk dapat disebut sebagai sekolah inklusi yang sebenarnya
dibutuhkan sarana dan prasarana yang dapat mengakses kebutuhan individual anak
yang tidak gampang dipenuhi oleh sekolah yang telah menyataan sebagai sekolah
inklusi yang sebenarnya juga dibuuhkan tenaga pendidikdan tenaga non pendidik
(seperti dokter psikolog konselor, dan sebagainya)yang tidak serta merta dapat
di penuhi oleh sekolah yang memproklamirkan dirisebagai sekolah inklusi.
Meskipun di sebut sebagai sekolah inklusi yang secara teoritis bisa menerima
semua anak tanpa memandang normal atau tidak normal, namun dalam praktek di
lapangan sekolah inklusi biasanya hanya menerima anak cacat yang berkategori
ringan, bukan yang kategori sedang atau berat.
2.3 Tenaga Kependidikan Dalam
Layanan ABK
1.
Tenaga Guru
Tenaga
guru tersebut maliputi : Guru khusus Guru Pembimbing (Konselor Pendidikan),
Guru Umum yang telah memiliki pengalaman luas dalam mendidik dan menangani
masalah-masalah pendidikan anak di sekolah.
2.
Tenaga Ahli
Tenaga
ahli meliputi: Dokter Umum, Dokter Sepesialis, Psikolog, Sosisal Worker, maupun
tenaga akhli lainya yang di perlukan.
3.
Tenaga Administrasi
Untuk
kelancaran proses belajar-mengajar perlu dukungan tenaga administrasi sekolah.
Sebagai tenaga non akademik keberadaanya sangat di perlukan untuk kelancaran
tugas-tugas sekolah secara umum, misalnya keuangan, sura- menyurat, pendataan
murid/guru dan sebagainya.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Peserta didik yang berkebutuhan khusus adalah peserta didik yang
scara signifikan mengalami kesulitan dalam mengikuti prosese pembelajaran
karena mengalami kelainan fisik, mental, intelektual, emosional, dan social.
Sehingga mereka memerlukan layanan pendidikan yang bersifat khusus. Selain itu
tujuan layanan pendidikan bagi ABK tidak berbeda dengan tujuan pendidikan
secara umum yaitu untuk optimalisasi perkembangan potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME),
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
Negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
3.2
Saran
· Dengan adanya makalah ini diharapkan mahasiswa dan mahasisiwi dapat
memahami bagaimana memberi layanan ABK.
· Hendaknya mahasiswa dan mahasisiwi diharapkan dapat memahami peran
tenaga ahli yang menangani ABK, dan bagaimana perannya dalam mendidik ABK.
DAFTAR PUSTAKA
Hadis, Abdul,2006.Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus- Autistik.Alfabeta:Bandung.
Hadis,A.,1998.Pendidikan Luar Biasa Dan Anak Luar Biasa.Malang:FIP
IKIP.
UNESCO (2000) One School For All Children.EFA 2000
bulletin.Paris.
Suhaeri,H.N.
dan Purwanta, E.,1996.Bimbingan Konseling Anak Luar Biasa.Jakarta:Depdikbud
Ditjendikti P2TG.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar