Jumat, 23 Mei 2014

Makalah Anak Berkebutuhan Khusus



http://v-images2.antarafoto.com/gpr/1258351953/peristiwa-pendidikan-slb-53.jpg


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan manusia merupakan perubahan yang progresif dan berlangsung terus menerus atau berkelanjutan. Keberhasilan dalam mencapai suatu tahap perkembangan akan sangat menentukan keberhasilan dalam tahap perkembangan berikutnya. Sedangkan, apabila ditemukan adanya satu proses perkembangan yang terhambat, terganggu, atau bahkan terpenggal, dan kemudian dibiarkan maka untuk selanjutnya sulit mencapai perkembangan yang optimal.
Tidak setiap anak mengalami perkembangan normal. Banyak di antara mereka yang dalam perkembangannya mengalami hambatan, gangguan, kelambatan, atau memiliki factor-faktor resiko sehingga untuk mencapai perkembangan optimal diperlukan penanganan atau intervensi khusus. Kelompok inilah yang kemudian dikenal sebagai anak berkebutuhan khusus.
Uraian di atas, mengisyaratkan bahwa secara konseptual anak berkebutuhan khusus (children with special needs) memiliki makna dan spektrum yang lebih luas dibandingkan dengan konsep anak luar biasa, cacat, atau berkelainan (exceptional children). Anak berkebutuhan khusus tidak hanya mencakup anak yang memiliki kebutuhan khusus yang bersifat permanen akibat dari kecacatan tertentu (anak penyandang cacat), tetapi juga anak berkebutuhan khusus yang bersifat temporer. Anak berkebutuhan khusus temporer juga biasa disebut dengan anak dengan factor resiko, yaitu individu-individu yang memiliki atau dapat memiliki problem dalam perkembangannya yang dapat berpengaruh terhadap kemampuan belajar selanjutnya, atau memiliki kerawanan atau kerentanan atau resiko tinggi terhadap munculnya hambatan atau gangguan dalam belajar atau perkembangan selanjutnya. Bahkan, dipercayai bahwa anak berkebutuhan khusus yang bersifat temporer apabila tidak mendapatkan intervensi secara tepat sesuai kebutuhan khususnya, dapat berkembang menjadi permanen.


B. Rumusan Masalah
1.      apa yang dimaksud dengan anak berkebutuhan khusus (ABK)?
2.      bagaimana model layanan untuk anak berkebutuhan khusus (ABK)?
3.      tenaga kependidikan seperti apakah yang sesuai untuk layanan anak berkebutuhan khusus (ABK)?

C. Tujuan
1.      untuk mengetahui definisi anak berkebutuhan khusus.
2.      mengetahui model layanan untuk anak berkebutuhan khusus(ABK).
3.      mengetahui tenaga kependidikan yang sesuai untuk layanan anak berkebutuhan khusus (ABK).











BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Anak Berkebutuhan Khusus(ABK)
Anak dengan kebutuhan khusus (special needs children) dapat diartikan secara simpel sebagai anak yang lambat (slow) atau mengalami gangguan (retarded) yang tidak akan pernah berhasil di sekolah sebagaimana anak-anak pada umumnya.
Menurut Heward anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Anak berkebutuan khusus biasanya bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) sesuai dengan kekhususannya masing-masing. SLB bagian A untuk tunanetra, SLB bagian B untuk tunarungu, SLB bagian C untuk tunagrahita, SLB bagian D untuk tunadaksa, SLB bagian E untuk tunalaras dan SLB bagian G untuk cacat ganda.
Anak berkebutuhan khusus (ABK) agak berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus berproses dan tumbuh, tidak dengan modal fisik yang wajar, karenanya sangat wajar jika mereka terkadang cenderung memiliki sikap defensif (menghindar), rendah diri, atau mungkin agresif, dan memiliki semangat belajar yang lemah.
Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah definisi yang sangat luas, mencakup anak-anak yang memiliki cacat fisik, atau kemampuan IQ rendah, serta anak dengan permasalahan sangat kompleks, sehingga fungsi-fungsi kognitifnya mengalami gangguan.
2.2 Model Layanan Anak Berkebutuhan Khusus
ABK memiliki tingkat kekhususan yang amat beragam, baik dari segi jenis, sifat, kondisi maupun kebutuhanya, oleh karena itu, layanan pendidikanya tidak dapat dibuat tunggal atau seragam melainkan menyesuaikan diri dengan tingkat keberagaman karakteristik dan kebutuhan anak. Dengan beragamnya model layanan pendidikan tersebut, dapat lebih memudahkan anak-anak ABK dan orang tuanya untuk memilih layanan pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhanya.
Model layanan pendidikan bagi ABK diantaranya;
v Model Segregasi
Merupakan model layanan pendidian yang sudah lama dikenal dan diterapkan pada anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia. Model ini mencoba memberikan layanan pendidikan secara khusus dan terpisah Yaitu  penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan secara khusus danterpisah dari sistem pendidikan anak normal.Sistem pendidikan segregasi diselenggarakan karena:1.Adanya kekhawatiran terhadap kemampuan anak berkebutuhan khususuntuk belajar bersama dengan anak normal.2.Adanya kelainan fungsi pada anak berkebutuhan khusus memerlukanlayanan pendidikan dengan menggunakan metode yang sesuai dengankebutuhan khusus mereka.Ada empat penyelenggaraan pendidikan dengan sistem segregasi, yaitu :1.Sekolah Luar Biasa (SLB)Bentuk SLB merupakan bentuk unit pendidikan, artinya, penyelenggaraan sekolah mulai dari tingkat persiapan sampai dengantingkat lanjutan diselenggarakan dalam satu unit sekolah dengan satukepala sekolah.Pada awalnya penyelenggaraan sekolah dalam bentuk unit ini berkembang sesuai dengan kelainan yang ada (satu kelainan saja),sehingga ada SLB untuk tunanetra(SLB-A), SLB untuk tunarungu(SLB-B), SLB untuk tunagrahita (SLB-C), SLB untuk tunadaksa(SLB-D), SLB untuk tunalaras,sekolah autism, sekolah anak ber IQ sedang, sekolah anak berbakat, dsb. (SLB-E). Di setiap SLB tersebut adatingkat persiapan, tingkat dasar, dan tingkat lanjut.Selain itu ada pula SLB-ABCD yaitu SLB untuk anak tunanetra,tunarungu, tunagrahita, tunadaksa.
Kebaikan/kelebihan
§  Anak merasa senasib dan sepenanggungan sehingga dapat menghilangkan rasa minder, rendah diri dan dapat menimbulkan rasa kebangkitan diri dalam menyongsong kehidupan di masa yang akan datang.
§  Anak akan lebih mudah menyesuaian diri dengan teman-temanya yang sama-sama mengalami/menyandang ketunaan.
§  Anak akan termotivasi dan barsaing secara sehat dengan sesama temanya yang  senasib serta anak akan lebih mudah bersosialisasi dengantemanya tanpa adanya rasa takut bergaul dan rasa kurang percaya diri.
Kekurangan / kelebihan
§  Anak akan sulit bergaul dan menjalin komunikasi dengan anak yang normal karena mereka terpisah dari lingkungan anak-anak normal lainya.
§  Perkembangan sosialisasi anak akan terhambat secara luas di masyarakat dikarnakan pergaulannya yang terrbatas hanya dengan anak anak cacat saja.
§  Anak akan merasakan adanya ketidak adilan dalam kehidupan mereka di sekolah yang hanya terbatas bagi mereka yang tergolong berkelainan
.
v  Model Kelas Khusus
Sesuai dengan namanya, keberadaan kelas khusus tidak berdiri sendiri seperti halnya sekolah khusus (SLB)melainkan keberadaannya die sekolah umum/regular. Keberadaan kelas khusus tidak bersifat permanen, melainkan didasarkan pada ada/tidaknya anak-anak memerlukan pendidikan/pembelajaran khusus di sekolah tersebut. Tujuan dari pembentukan kelas khusus adalah untuk mebantu anak-anak agar tida terjadi tinggal kelas/drop out atau untuk menemukan gejala keluarbiasaan secaradini pada anak-anak SD. Dalam praktiknya kelas khusus bersifat fleksibel,ada kelas khusus sepanjang hari, dan kelas khusus untuk bidang stadi tertentu. Dalam kelas khusus sepanjang hari anak ABK dididik oeh guru khusus diruangan/kelas yang khusus pula. Pada jam-jam istirahat, anak-anak ini dapat dapat berinteraksi dengan mereka yang bukan ABK, sedangkan pada jam-jam pelajaran mereka hanya berinteraksi dengan sesamamereka yang berkategori ABK. Kelas khusus ini hamper mirip dengan sekolah segregas, hanya saja lokasinya yang berbeda dalam satu naungan sekolah induk/regular. Dalam kelas khusus dalam bidang stadi tertentu anak-anak (ABK)belajar bidang stadi yang tidak dapat mereka ikutidi kelas regular. Adapun dalam bidang stadi tertentu seperti olahraga, kerajinan tangan, music, dan lain-lain dapat dilakukan secara bersama-sama dengan anak-anak yang bukan ABK. Di kelas khusus ini biasanya anak-anak mendapat mata pelajaran yank bersipat akademik seperti membaca, menulis dan berhitung  atau aspek-aspek lain yang sesuai dengan kekhususannya.

Kebaikan/kelebihan.
§  Pengelompokan relative homogen karena agar anak akan lebh mendapatkan perlakuan dan pelayanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak tersebut.
§  Dengan cara pembelajaran menggunakan pendekatan individual atau kelompok kecil potensi  anak akan lebih cepat berkembang.
§  Dari segi sosial, keberadaan anak di dalam lingkungan yang normal anak akan lebih mudah untuk mengembangkan diri.
Kekurangan/Kelemahan
§  Penghambat belajar anak-anak ABK, yaitu anak-anak ABK  kadang-kadang masih mendapat stigma dari teman-temannya.
§  Anak-anak ABK dalam bersosialisasi kadang masih canggung/enggan untuk bergaul dengan teman/mereka yang bukan kategori dari anak-anak ABK.
§  Sebagian orang tua tidak mau/terima apabila anak-anak mereka die cap sebagai ABK, apalagi kalau dikelompokan/dikhususkan dengan sesame ABK yang dalam kelas tertentu.

v  Model Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB)
SDLB keberadaannya hampir mirip dengan SLB akan teapiSDLB sesuai dengan intruksi presiden (inpres) No. 4/1982 adalah sekolah yang di peruntukan dan untuk menampung anak-anak berkebutuhan khusus usia sekolah dasar dari berbagai jenis dan tingkat kehususannya. Sesuai dengan inpres SD No. 7/1983, SDLB pada hakikatnya adalah SD Negeri impres,biasa tetapi khusus diperuntukan bagi anak-anak usia wajib belajar yang memerlukan pendidikan khusus. Dilihat dari keragaman anaanak yang sekolah di SDLB dengan berbagai jenis kekhususannya tersebut, maka SDLB sebenarnya termasuk sekolah terpadu, akan tetapi terpadu secara fisik bukan terpadu secara akademik. (Dwidjo sumarto, 1988)
Kebaikan/Kelebihan
§  Anak akan merasa bahwa mereka berada dalam dunia yang lebih luas, bukan terbatas pada kelamin tertentu saja.
§  Anak akan lebih leluasa mengadakan interaksi dan komunikasi bersama temannya yang berpariasi dari jenis ketunaannya. Itu dilihat dari segi perkembangan sosialnya.
§  Anak akan dapat lebih mudah meningkatkan rasa percaaya diri, menebalkan semanga, dan motivasi berprestasi yang tinggi karna mereka sama-sama senasib dan sepenanggungan, dilihat dari segi psikologis.
Kekurangan/Kelemahan                                                                          
§  Anak masih merasa bahwa mereka hidup dalam lingkaran/dunia terpisah dari anak-anak yang normalpadahal mereka sebenarnya hidup dalam lingkungan yang normal yang akibatnya anak merasa di sisihkan dari dunia yang normal.
§  Anak masih merasakan terbatasnya dalam menembangkan interaksi dan komunikasi dengan mereka yang kategori normal, karena anak-anak dikelompokan berdasarkan jenis ketunaan tertentu, sehingga kadang-kadang timbul sikap permusuhan di antara kelompok mereka.

v  Model Guru Kunjung
Model guru kunjung dapat diterapkan untuk melayani pendidikan bagi ABK terutama mereka yang ada atau bermukim di daerah terpencil, daerah perairan, daerah kepulauan,atau tempat-tempat yang slit terjangkau oleh layanan pendidikan khusus yang telah ada,misalnya SLB, SDLB, kelas khusus, dan sebagainya. Di tempat-tempat tersebut di bentuk sanggar/kelompok-kelompok belajar temat anak-anak memperoleh layanan pendidikan. Guru kunjung dengan waktu yang telah di tentukan secara periodik mengunjungi tempat-tempat kelompok belejar yang menjadi binaannya. Program pendidikan yang ditawarkan meliputi pembelajaran dengan materi yang bersipat praktis dan prgmatis, seperti keterampilan kehidupan sehari-hari, membaca, menulis, dan berhitung sederhana. Guru kunjung tersebut biasanya diambilkan dari guru khusus yang mengajar di sekolah induknya atas penunjukan dari dinas pendidikan setempat.
Kebaikan/Kelebihan
§  Anak akan lebih mudah mendapat layanan pendidikan dengan tidak perlu datang ke suatu tempat yang jauh dari tempat tinggaln ya karna sudah ada petugas/guru khusus yang mendatanginya.
§  Anak-anak bisa saling berkomunikasi dengan sesame mereka yang berkategori ABK dari daerah/tempat yang lain yang saling berjauhan sehingga dapat memicu semangat dalam belajar.
§  Anak-anak dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan praktis dan pragmatis yang mereka butuhkan sehari-hari.
Kelemahan/Kekurangan
§  Layanan pendidikan berupa system guru kunjung dalam banyak hal masih sulit diterapkan/dilakukan karena memerlukan jaringan kerjasama antar berbagai pihak yang tidak begitu mudah.
§  Anak-anak ABK di daerah terpencil, pedalaman,maupun di tempat-tempat terasing lain keberadaanya tersebar dan terpencar-pencar sehingga menyulitkan dalam mengadakan koordinasi untuk pelaksanan pembelajaran.
§  Para orangtua anak ABK di daerah terpencil pada umumnya masih rendah kesadaranya untuk menyekolahkan/mengirimkan anaknya untuk belajar di sanggar-sanggar belajar.
§  Masalah transportasi merupakan persoalan klasik yang menjadi kendala sebagian orangtua untuk mengirimkan anaknya belajar disanggar-sanggar belajar.

v  Sekolah Terpadu
Sekolah terpadu pada hakiatnya merupakan sekolah normal biasa yang telah ditetapkan untuk menerima anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka belajar bersama-sama dengan anak-anak normal lainya tanpa di pisah oleh dinding tembok kelas. Dalam pembelajaran di sekolah mereka di ajar oleh guru-guru umum sedangkan materi-materi yang mempunyai sifat kekhususan diberikan oleh guru-guru pendamping yang telah ditunju. Dalam pelaksananya pendidikan terpadu dapat berlangsung secara (1) terpadu penuh/sepanjang hari pelajaran dan dapat pula (2) secara terpadu sebagian/khusus bidang stadi tertentu. Pada tipe sekolah terpadu penuh, anak-anak abeka belajar sama-sama dengan mereka yang bukan ABK dengan mengikuti semua pelajaran tanpa terkecuali. Meskiun demikian tipe sekolah ini tetap membutuhkan guru pendamping khusus di kelas/sekolah tersebut. Jika guru umum menghadapi kesulitan berkaitan dengan anak ABK maka ia dapat meminta bantuan pada guru khusus tersebut. Disekolah terpadu sebagian anak-anak ABK mengikuti mata pelajaran bersama-sama anak-anak bukan ABK yang bersipat akademik, misalnya Matematika, IPA, IPS, dan lain-lain. Sedangkan untuk mata pelajaran yang tidak bisa di ikuti oleh ABK bersama anak-anak normal maka anak ABK dilayani tersendiri sesuai karakteristik kekhususannya, seperti mata pelajaran/kegiatan olahraga, kerajinan tangan,  latihan orientasi, dan mobilitas, dan lain-lain. Pendidikan/sekolah terpadu pada awalnya hanya menerima murid ABK kategori tunanetra, namun untuk yang sekarang dan yang akan datang  pendidikan terpadu diharapkan bisa menerima murid dari semua jenis ABK dengan system yang lebih baiik lagi.
Kebaikan/Kelebihan
§  Anak merasa di hargai hakekat dan martabat sebagai manusia pada umumnya sehingga mereka bisa belajar bersama-sama dengan anak normal tanpa dibatasi oleh dinding tembok pemisah yang tegas.
§  Dari segie perkembangan sosial anak mudah berinteraksi dan berkomunikasi secara luas dengan mereka /anak-anak yang normal di sekolah tersebut.
§  Dari segi psikologis,anak merasa percaya diri dan dapat menimbulkan semangat/motvasi untuk bersaing secara sehat dengan mereka yang berkategori normal.
Kekurangan/Kelemahan
§  Ana kadang merasa rendah diri di depan mereka yang normal sehingga akibatnya dapat meruntuhkan emangat dalam belajar di kelas/seolah.
§  Dalam kondisi tertentu, anak kadang menjadi bahan olok-olokan yang negative dar temanya yang normal sehingga kondisi kejiwaan anak ABK menjadi tertekan dan selanjutnya dapat meruntuhkan motivasi belajarnya yang sebelumnya telah terbangun dengan baik.
§  Kadang ketersediaan guru GPK (Guru Pendamping Khusus) bagi anak ABK di seolah tersebut tidak terlalau tersedia.

v  Pendidikan Inklusi (Inklusive Education)
Kata inklusi bermakna terbuka lawan dari eksklusi yang bermakna tertutp. Pendidikan inklusi berarti pendidikan yang bersipat terbuka bagi siapa saja yangmau masuk sekolah baik dari kalangan yang berkebutuhan khusus maupun yang normal. Demikian pula lingkungan pendidikan, termasuk ruangan kelas, toilet, halaman bermain, laboratorium, dan lain-lain harus dimodifikasi dan dapat di akses oleh semua anak, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus. Pelaksanaan pendidikan inklusi dilator belaangi oleh filsafat mainstriming yang menyatakan bahwa dunia yang normal harus berisi manusia yang normal dan  yang tidak normal.demikian pula komunitas sekolah yang normal harus ada kebersamaan antara anak yang normal dan yang tidak normal, baik pada saat menerima pelajaran dalam kelas maupun pada saat bersosialisasi di luar kelas. Penyelenggaraan pendidikan inklusi tentu sajah memerlukan perencanaan yang matang, sehingga dalam pelaksanannya tidak menimbulan evek yang kurang menguntungkan. Pendidikan inklusi lazimnya sudah di terapkan di Negara-negara maju, seperti Norwegia, Swedia, Denmark, USA,dan sebagian Australia. Di Indonesia model pendidikan inklusi sudah mulai banyak dirintis di beberapa sekolah tertentu, namun belum dapat sepenuhnya di laksanakan. Tetapi dalam prakteknya tidak lebih dari sekedar sekolah terpadu biasa.
Kebaikan/Kelebihan
§  Anak akan memperoleh keadilan layanan pendidikan yang tidak dibedakan dari anak-anak normal lainya sehingga secara tidak langsung dapat membangkitkan motivasi dan gairah belajar di sekolah. Anak dapat mengambil bagian untuk berartisipasi dalam kehidupan norma di sekolah atau di masyarakat tanpa memandang kekurangan/ketunaan yang di sandangnya.
§  Anak merasakan adanya perlakuan dan persamaan hak, harkat dan martabatdalam memperoleh layanan pendidikan tanpa membedakan antara yang cacat dan yang normal.
§  Anak dapat bergaul dan berinteraksi secara sehat dengan teman-temanya  yang bukan kategori ABK, sehingga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi berprestasi dalam belajar disekolah.
Kekurangan/Kelemahan
§  Dalam berinteraksi sosial, dalam kondisi tertentu kadang anak masih mendapatkan cemoohan atau ejekan yang negatif dari sebagian temanya yang normal yan dapat berakibat menurunnya anak dalam semangat belajar dan komunikasi di sekolah.
§  Untuk dapat disebut sebagai sekolah inklusi yang sebenarnya dibutuhkan sarana dan prasarana yang dapat mengakses kebutuhan individual anak yang tidak gampang dipenuhi oleh sekolah yang telah menyataan sebagai sekolah inklusi yang sebenarnya juga dibuuhkan tenaga pendidikdan tenaga non pendidik (seperti dokter psikolog konselor, dan sebagainya)yang tidak serta merta dapat di penuhi oleh sekolah yang memproklamirkan dirisebagai sekolah inklusi. Meskipun di sebut sebagai sekolah inklusi yang secara teoritis bisa menerima semua anak tanpa memandang normal atau tidak normal, namun dalam praktek di lapangan sekolah inklusi biasanya hanya menerima anak cacat yang berkategori ringan, bukan yang kategori sedang atau berat.
2.3 Tenaga Kependidikan Dalam Layanan ABK
1.      Tenaga Guru
Tenaga guru tersebut maliputi : Guru khusus Guru Pembimbing (Konselor Pendidikan), Guru Umum yang telah memiliki pengalaman luas dalam mendidik dan menangani masalah-masalah pendidikan anak di sekolah.
2.      Tenaga Ahli
Tenaga ahli meliputi: Dokter Umum, Dokter Sepesialis, Psikolog, Sosisal Worker, maupun tenaga akhli lainya yang di perlukan.
3.      Tenaga Administrasi
Untuk kelancaran proses belajar-mengajar perlu dukungan tenaga administrasi sekolah. Sebagai tenaga non akademik keberadaanya sangat di perlukan untuk kelancaran tugas-tugas sekolah secara umum, misalnya keuangan, sura- menyurat, pendataan murid/guru dan sebagainya.






BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan
Peserta didik yang berkebutuhan khusus adalah peserta didik yang scara signifikan mengalami kesulitan dalam mengikuti prosese pembelajaran karena mengalami kelainan fisik, mental, intelektual, emosional, dan social. Sehingga mereka memerlukan layanan pendidikan yang bersifat khusus. Selain itu tujuan layanan pendidikan bagi ABK tidak berbeda dengan tujuan pendidikan secara umum yaitu untuk optimalisasi perkembangan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME), berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung  jawab.

3.2    Saran
·      Dengan adanya makalah ini diharapkan mahasiswa dan mahasisiwi dapat memahami bagaimana memberi layanan ABK.
·      Hendaknya mahasiswa dan mahasisiwi diharapkan dapat memahami peran tenaga ahli yang menangani ABK, dan bagaimana perannya dalam mendidik ABK.







DAFTAR PUSTAKA

Hadis, Abdul,2006.Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus-       Autistik.Alfabeta:Bandung.
Hadis,A.,1998.Pendidikan Luar Biasa Dan Anak Luar Biasa.Malang:FIP IKIP.
UNESCO (2000) One School For All Children.EFA 2000 bulletin.Paris.
Suhaeri,H.N. dan Purwanta, E.,1996.Bimbingan Konseling Anak Luar Biasa.Jakarta:Depdikbud Ditjendikti P2TG.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar